PENGOLAHAN LIMBAH SUSU

Industri pengolahan makanan menyebabkan masalah lingkungan yang parah karena menghasilkan air limbah yang kuat dicirikan oleh tingginya kebutuhan oksigen biologis (BOD) dan kebutuhan oksigen kimia (COD) (D. Ordhon, et al, 1993) . Di antara industri makanan, industri susu adalah yang paling mencemari dalam hal volume limbah yang dihasilkan serta karakteristiknya, yang mana dapat menghasilkan sekitar 0,2–10 L limbah per liter susu olahan (M.Vourch et al. 2008).

Industri susu umumnya dianggap sebagai sumber air limbah pengolahan makanan terbesar di banyak negara. Air digunakan di semua langkah industri susu, termasuk pembersihan, sanitasi, pemanasan, pendinginan, dan mencuci lantai; tentunya kebutuhan industri akan air sangat besar (B. Sarkar et al. 2006). Namun, sejumlah besar air ini berupa air limbah yang tidak digunakan kembali dan menjadi sumber pencemaran lingkungan penerima (sungai, laut) (Hazourli et al. 2004). Secara umum, limbah dari industri pengolahan susu mengandung bahan organik (laktosa, protein, lipid, garam dan mineral) dengan konsentrasi tinggi (Hamdani et al. 2004), menghasilkan tingkat permintaan oksigen biokimia yang tinggi, permintaan oksigen kimia (COD), total padatan tersuspensi dan total padatan terlarut

Semua ini memerlukan perawatan khusus untuk mencegah atau meminimalkan masalah lingkungan. Air limbah susu (DWs) juga ditandai dengan luas fluktuasi dalam tingkat aliran, terkait dengan diskontinuitas dalam siklus produksi produk yang berbeda (TJ Britz, M van der Merwe dan KHJ Riedel, 1992). Oleh karena itu, pengolahan air limbah susu sangat penting dari sudut pandang lingkungan dan kebutuhan air untuk industri susu (JP Kushwaha, VC Srivastava, dan ID Mall, 2010).

Berdasarkan karakteristik limbah cair industri susu, proses pengolahan limbah yang dilakukan adalah dengan mengkombinasikan proses fisika, kimia, dan biologi. Proses fisika meliputi : proses equalisasi, sedimentasi, filtrasi, flotasi dan penyaringan. Proses kimia meliputi : koagulasi dan flokulasi, sedangkan proses biologi meliputi : proses anaerob dan proses aerasi lumpur aktif. Proses sesungguhnya pengolahan limbah cair industri susu dengan peralatan proses hasil instalasi dilakuakan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :

  1. Proses  Equalisasi

Proses equalisasi atau proses penyeragaman, yaitu proses pendahuluan yang akan sangat membantu terhadap proses aerasi anaerob. Equalisasi bukan merupakan suatu proses pengoiahan tetapi merupakan suatu cara / teknik untuk meningkatkan efektivitas dari proses pengolahan selanjutnya. Keluaran dari bak equalisasi adalah adalah parameter operasional bagi unit pengolahan sellanjutnya seperti flow, level/derajat kandungan polutant, temperatur, padatan, dsb. Kegunaan dari equalisasi adalah :

  • Membagi dan meratakan volume pasokan (influent) untuk masuk pada proses treatment.
  • Meratakan variabel & fluktuasi dari beban organik untuk menghindari shock loading pada sistem pengolahan biologi
  • Meratakan pH untuk meminimalkan kebutuhan chemical pada proses netralisasi.
  • Meratakan kandungan padatan (SS, koloidal, dls b) untuk meminimalkan kebutuhan chemical pada proses koagulasi dan flokulasi.

Sehingga dilihat dari fungsinya tersebut, unit bak equalisasi sebaiknya dilengkapi dengan mixer, atau secara sederhana konstruksi/peletakan dari pipa inlet dan outlet diatur sedemikian rupa sehingga menimbulkan efek turbulensi!mixing.Idealnya pengeluaran (discharge) dari equalisasi dijaga konstan selama periode 24 jam, biasanya dengan cara pemompaan maupun cara cara lain yang memungkinkan

2. Poses Aerasi Anaerob

Poses aerasi anaerob, yaitu proses yang bertujuan untuk menurunkan bahan-bahan organik terlarut dan senyawa organik lainnya dengan bantuan bakteri anaerob.

3. Proses aerasi

Proses aerasi, bertujuan untuk menurunkan bahan-bahan organik dan senyawa organik lainnya dengan cara memasukkan oksigen secara terus-menerus.

4. Proses sedimentasi pertama

Proses sedimentasi pertama, proses untuk mengendapkan lumur yang dihasilkan pada proses aerasi.

5. Proses koagulasi-flokulasi

Proses koagulasi-flokulasi, yaitu proses penambahan dosis koagulan dan dilanjutkan dengan proses pengadukan untuk membentuk flok.

6. Proses sedimentasi kedua

Proses sedimentasi kedua, yaitu proses pengendapan terhadap flok yang terbentuk pada proses 5

7. Proses flotasi

Proses flotasi, yaitu proses pengapungan untuk meningkatkan laju pemindahan partikel- partikel tersuspensi yang ada.

8. Proses sedimentasi ketiga

Proses sedimentasi ketiga, yaitu proses pengendapan partikel ringan.. Proses penyeringan dengan pasir

9.Proses penyeringan dengan pasir

Proses penyeringan dengan arang aktif

10. Proses penyeringan dengan arang aktif, untuk menyerap bahan-bahan kimia yang tersisa.

Sumber :

D. Orhon, E. Gorgun, F. Germirli, and N. Artan. Biological Treatability Of Dairy Wastewaters. Water Research, vol. 27, no.4, pp. 625–633, 1993.

M. Vourch, B. Balannec, B. Chaufer, and G. Dorange.2008. Treatment of dairy industry wastewater by reverse osmosis for water reuse. Desalination, vol. 219, no. 1–3, pp. 190–202

B. Sarkar, P. P. Chakrabarti, A. Vijaykumar, and V. Kale. 2006.Wastewater treatment in dairy industries possibility of reuse. Desalination, vol. 195, no. 1-3, pp. 141–152

Hamdani A, Chennaoui M, Assobhei O, Mountadar M .(2004). Caractérisation et traitement par coagulation décantation d’un efuent de laiterie. Lait 84:317–328.

Hazourli S, Boudiba L, Fedaoui D, Ziati M (2007). Prétraitement par coagulation-foculation d’eaux résiduaires d’une laiterie industrielle. Soc Algér Chim 17(2):155–172

J. P. Kushwaha, V. C. Srivastava, and I. D. Mall. 2010. Organics removal from dairy wastewater by electrochemical treatment and residue disposal. Separation and Purification Technology, vol. 76, no. 2, pp. 198–205

TJ Britz, M. van der Merwe, dan KHJ Riedel. 1992. Pengaruh penambahan fenol pada efisiensi digester hibrida anaerobik yang mengolah lahanakan lindi. Biotechnology Letters, vol. 14, tidak. 4, hlm. 323–328

Wagini.W,dkk. 2002. Pengolahan Limbah Cair Industri Susu. Manusia dan lingkungan, Maret 2002, Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.