Bagaimana Selanjutnya Penanganan Limbah APD dan Masker Bekas Pemakaian saat Pandemi COVID-19?

Halo Sobat Nataru!!

Alat-alat kesehatan khususnya masker dan Alat Pelindung Diri (APD) belakang ini telah menjadi topik perbincangan setelah pandemi COVID-19 menyerang seluruh dunia. Dari harga yang melonjak drastis, barang terbilang langka hingga limbah bekas pemakaian ramai diperbincangkan oleh masyarakat dunia. Mengapa limbah alat kesehatan ikut menjadi topik perbincangan? Seperti yang diketahui, setelah digunakan, alat-alat itu berubah menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang jika tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan dampak berbahaya bagi lingkungan dan selanjutnya manusia. Jadi, limbah masker serta alat-alat kesehatan lainnya bekas penanganan pasien positif COVID-19 di rumah sakit maupun yang dipakai masyarakat harus mendapatkan perlakuan khusus. Lalu, bagaimana cara terbaik dalam penanganan dan pengelolaan limbah APD dan masker tersebut?

Pada tanggal 24 Maret 2020, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI telah mengeluarkan Surat Edaran No. SE.2/MLHK/PSLB3/P.LB3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19). Surat edaran ini hendaknya jadi pedoman penanganan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam mengendalikan paparan dan menghindari penumpukan limbah ini.

Pengendalian Covid-19 menggunakan berbagai sarana kesehatan, seperti Alat Pelindung Diri (APD) hingga alat dan sampel laboratorium. Setelah digunakan barang tersebut termasuk limbah berbahan berbahaya dan beracun (B3) dan limbah infeksius. Diperlukan pengelolaan untuk mengendalikan, mencegah, dan memutus penularan virus korona serta menghindari terjadinya penumpukan limbah dari aktivitas itu.

Surat edaran tersebut menjadi pedoman bagi pemerintah yang mencakup penanganan pada tiga ruang lingkup, yakni limbah infeksius yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, limbah infeksius yang berasal dari rumah tangga dan terdapat Orang Dalam Pemantauan (ODP), dan sampah rumah tangga serta sampah sejenis sampah rumah tangga.

Dalam pelaksanaannya, terdapat 3 (tiga) cara mengelola limbah alat-alat kesehatan dan masker bagi pelayanan kesehatan serta masyarakat:

Pengelolaan limbah masker bagi masyarakat

Masker yang digunakan oleh masyarakat, bukan termasuk kategori limbah medis. Untuk limbah masker di luar fasilitas pelayanan kesehatan masuk dalam kategori limbah domestic dengan demikian perlakuannya sama dengan pengelolaan limbah domestik sesuai Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Namun untuk mengurangi risiko kesehatan, penanganan masker yang habis pakai, kita semua harus berperan dengan mengelola masker bekas pakai. Lakukan desinfeksi dengan cara rendam masker yang telah digunakan pada larutan disinfektan/ klorin/ pemutih. Setelah itu, kumpulkan masker dengan wadah/plastic yang aman. Untuk masker sekali pakai rusak talinya dan robek tengah sehingga tidak dapat digunakan ulang. Selanjutnya kumpulkan dalam satu wadah, ikat rapat dan jangan satukan dengan limbah domestik. Pemerintah daerah diminta untuk menyiapkan tempat sampah atau drop box khusus masker di ruang publik.

Meski peningkatan jumlah limbah rumah tangga tidak sedrastis dari rumah sakit, pemerintah menyarankan untuk menggunakan bahan dari kain yang bisa dicuci dengan sabun dan dipakai kembali untuk mengurangi limbah.

Langkah pengelolaan limbah masker sekali pakai
sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Metode Autoclave (Penguapan)

Soal limbah infeksius Corona pada fasilitas layanan kesehatan, pedoman ini memberikan arahan, bahwa lama penyimpanan limbah infeksius dalam kemasan tertutup maksimal dua hari sejak dihasilkan.

Metode autoklaf memperlakukan limbah medis menjadi steril dengan cara menggunakan uap panas, dicacah, dan akhirnya dibuang ke TPA. Metode ini berfungsi sebagai pengganti metode pembakaran untuk mencegah lepasan persistent organic pollutants (POPs) atau senyawa organik yang bersifat racun dan bertahan lama di lingkungan.

Penanganan limbah APD dengan cara penguapan bisa dilakukan dengan memisahkan sesuai jenisnya terlebih dahulu. Setelah itu bawa limbah ke fasilitas penampung sementara dan simpan selama 3 hari. Gunakan autoklaf yang dilengkapi dengan mesin pencacah sebelum membawa limbah ke TPA bersama sampah lainnya.

Penyemprotan desinfeksi limbah medis COVID-19
sumber: republika.co.id
Unit desinfeksi dengan sisitem uap (autoclave)
sumber: theconversation.com

Metode Pembakaran dengan Insinerator

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah merekomendasikan membakar sampah dengan tungku bakar dengan temperatur di atas 800 derajat Celsius (insinerator) untuk menjamin seluruh virus tak mencemari lingkungan. Sejauh ini, belum pernah ada pemantauan dioksin(senyawa berbahaya yang bisa merusak lingkungan dan mengancam kesehatan manusia), akibat pembakaran limbah medis di Indonesia.

Berdasarkan data KLHK tahun 2018, dari 2.800 rumah sakit di Indonesia, baru 93 rumah sakit memiliki izin operasional insinerator dengan total kapasitas terpasang 50 ton per hari.

Namun, Seperti disebutkan di atas proses insinerasi bisa menimbulkan masalah baru yang lebih serius yaitu munculnya limbah B3. Limbah B3 yang berbentuk abu yang terbang di udara, kerak sisa pembakaran, dan emisi dari tungku bakar yang mengandung dioksin, partikel sangat lembut (ultrafine particles), dan logam berat yang berpotensi mencemari air, tanah, dan udara.

Alat Insinerator
sumber: alibaba

Sumber Berita:
https://www.mongabay.co.id/2020/04/11/bagaimana-pengelolaan-limbah-penanganan-corona-ini-aturannya/
https://www.greeners.co/berita/klhk-keluarkan-surat-edaran-pengelolaan-limbah-b3-untuk-penanganan-covid-19/
https://theconversation.com/empat-cara-mengelola-limbah-masker-dan-apd-selama-pandemi-covid-19-mana-yang-lebih-efektif-135956
https://www.asumsi.co/post/limbah-bekas-penanganan-covid-19-harus-diapakan
http://www.kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Pedoman-Pengelolaan-Limbah-Fasyankes-Covid-19_1571.pdf