Alat-alat yang ada di sekret KSL “NATARU”

KELOMPOK STUDI LINGKUNGAN BUANA KALPATARU

Salam Lestari!!!

Apa kabar sahabat lingkungan? Semoga dapat terus menjaga kelestarian lingkungan ya.

Pada kali ini Kelompok Studi Lingkungan Buana Kalpataru akan menyampaikan perihal kegiatan yang telah kami laksanakan. Dimana kesempatan ini kami akan menjelaskan sedikit Alat-alat yang ada di sekret kami apa aja? Penasaran! yuk langsung aja kita lihat penjelasan Alat-alat yang ada di sekret kami sebagai berikut :

 

1. FILTRASI

 

A. Pengertian Filtrasi

Secara sederhana filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada medium penyaringan yang di atasnya akan ada padatan yang terendapkan. Fluida yang difiltrasi dapat berupa cairan atau gas, aliran yang lolos dari saringan mungkin saja cairan padatan, atau keduanya. Suatu saat justru limbah padatnya lah yang harus dipisahkan dari limbah cair sebelum dibuang.

 

B. Penerapan Filtrasi

a. Dalam kehidupan sehari-hari

Dalam lingkungan masyarakat, filtrasi digunakan dalam banyak kegiatan contohnya:

1. Menyaring teh dari air teh,

2. Menyaring mie dari airnya,

3. Menyaring santan.

b. Dalam industri air bersih

Banyak industri air bersih seperti PDAM, PT. DANONE dengan produk Aqua-nya, dan perusahaan lain yang menggunakan filtrasi untuk mengolah air baku menjadi air bersih siap minum atau siap konsumsi.

c. Dalam perusahaan yang memiliki IPAL

Sebuah perusahaan memerlukan IPAL untuk mendirikan perusahaaan tersebut, dalam instalasi pengolahan limbah terdapat tahap filtrasi yaitu memisahkan antara pertikel satu dengan partikel lainnya.

 

C. Filter Sederhana dan Fungsinya

Pengertian filter sederhana yaitu suatu alat yang berfungsi untuk menyaring dan menghilangkan kontaminan di dalam air dengan menggunakan penghalang atau media, secara media alami ataupun media yang telah ditambahkan jenis fungsinya. Secara luas filter air sederhana dapat digunakan secara luas untuk irigasi, air minum, aquarium dan kolam renang.

C.1. Pembuatan Filter Sederhana

1. Bahan pembuatan filter sederhana

a. 3 kg arang aktif

b. 2 kg ijuk kelapa

c. Batu kerikil

d. Pasir silica

e. 1 buah keran 1 inci

f. Batu berdiameter 2-3 cm

2. Alat-alat untuk membuat filter sederhana

a. 1 buah pipa PVC/ paralon ukuran 4 inci atau 114 mm dengan panjang 130 cm.

b. Solder (berfungsi untuk membuat lubang pada pipa).

c. 1 buah pipa yang telah di gepengkan untuk dijadikan penampang.

3. Penempatan bahan

Penempatan bahan dari atas:

a. Ijuk kelapa

b. Pasir silica

c. Ijuk kelapa

d. Pasir silica

e. Arang aktif

f. Batu kerikil

g. Baru berdiameter 2-3 cm

 

D. Filter Aktif dan Fungsinya

Pengertian filter aktif hampir sama dengan filter sederhana hanya saja media yang digunakan hanya 2 media, yaitu :

1. Arang aktif

          Arang aktif merupakan arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap/adsorpsi yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk cair atau gas. Bahan baku yang paling banyak beredar dipasaran adalah dari batok kelapa. Fungsi dari arang aktif adalah sebagai bahan penyerap, dan penjernih, juga bisa sebagai katalisator. Untuk membuat arang aktif, setidaknya minimal dilakukan dengan 2 cara, antara lain:

a. Karbonisasi atau pembuatan arang dari batok kelapa tua,

b. Aktivasi arang batok.

Untuk membuat arang dari batok kelapa perlu memenuhi syarat antara lain tempurung dari kelapa tua, kayunya keras, dan berkadar air rendah. Syarat ini akan memudahkan proses pengarangan, pematangannya akan berlangsung baik dan merata.

Dan untuk aktivasi arang aktif prinsip dasarnya adalah distilasi kering atau pirolisis yaitu pembakaran tanpa menggunakan udara atau oksigen dengan suhu tinggi.

Berikut cara kerja pembuatan arang aktif:

1) Karbonisasi atau pembuatan arang

Untuk membuat arang ada beberapa cara, yang pertama cukup dimasukkan ke dalam drum minyak, kemudian tempurung dibakar saat awal saja, kemudian setelah menyala ditutup. Harap ingat, drum harus dikasih lubang udara sedikit untuk melihat apakah arang sudah jadi atau belum, bisa dilihat dari indikasi asap yang keluar. Cirinya asalah sebagai berikut:

a. Jika asap tebal dan putih, berarti batok sedang mongering.

b. Jika asap tebal dan kuning, berarti sedang terjadi pengkarbonan. Pada fase ini sebaiknya tungku ditutup dengan maksud agar oksigen yang terdapat pada ruang pengarangan sedikit sehingga diperoleh hasil arang yang baik. Untuk pengaturan udara di dalam tungku bisa diatur dengan membuka tutup lubang udara.

c. Kemudian jika asap semakin menipis dan berwarna biru, berarti pengarangan hampir selesai, tunggu sampai arang menjadi dingin. Setelah dingin arang bisa dibongkar.

2) Aktivasi arang aktif

a. Arang dimasukkan ke dalam tangki aktivasi (pirolisis) dan ditutup rapat.

b. Memastikan sambungan pipa pendingin, dan termocouple untuk pengamatan temperatur berfungsi sebagaimana mestinya.

c. Mengalirkan air pendingin ke dalam pipa pendingin, kemudian kompor tungku pirolisis mulai dinyalakan. Kompor bisa menggunakan bahan bakar minyak tanah atau solar, pengaturan api bisa diatur menggunakan kompresor.

d. Lakukan pengamatan terhadap kerja dari tungku aktivasi dengan mengamati kenaikan temperatur. Temperatur selama proses sekitar 600oC apabila temperatur telah mencapai 600oC dan terlihat pada ujung pendingin tidak adanya tar (cairan berwarna coklat) yang keluar, ditandai dengan adanya gelembung air, maka pembakaran dipertahankan selama 3 jam. Setelah waktu tersebut proses telah selesai.

e. Kemudian api dimatikan, dan tungku aktivasi dibiarkan sampai dingin, setelah itu bisa dibuka dan dikeluarkan untuk dilakukan penggilingan sesuai mesh yang diinginkan.

2. Pasir aktif

        Pengertian pasir aktif adalah pasir yang biasa digunakan bangunan yang diberikan larutan KMnO4 (Kalium Permanganat) sehingga memiliki kemampuan mengurangi kadar Mn (Mangan) dan Fe (Besi) pada air. Cara pembuatannya bisa dikatakan cukup mudah yaitu dengan menyiapkan pasir yang akan digunakan, lalu KMnO4 diteteskan pada pasir yang disediakan lalu diaduk aduk yang bertujuan agar larutan tersebut merata melekat dengan pasir. Tunggu beberapa menit agar pasir bereaksi dengan larutan.

Hal yang membedakan filter aktif dan filter sederhana bukan hanya dari media penyaringnya saja, tetapi model dari filter tersebut. Filter sederhana hanya berbentuk satu buah pipa lurus dengan satu input dan satu output. Berbeda dengan filter aktif yang memiliki input dan output lebih dari satu. Selain itu, filter aktif juga bisa menggunakan sistem backwash yaitu sebuah upaya dengan menggunakan Down Flow (aliran dari bawah ke atas) yang bertujuan untuk membersihkan media dari kotoran yang tersaring lalu mengeluarkannya melalui output.

 

2. HIDROPONIK

 

A. Pengertian Hidroponik

Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas.

 

B. Macam-macam Teknik Hidroponik

Ada 4 macam teknik hidroponik yaitu:

  1. Wick System

Wick System merupakan teknik yang paling sederhana dan populer digunakan oleh para pemula. Sistem ini termasuk pasif dan nutrisi mengalir ke dalam media pertumbuhan dari dalam wadah menggunakan sejenis sumbu. Wick System hidroponik bekerja dengan baik untuk tanaman dan tumbuhan kecil. Sistem hidroponik ini tidak bekerja dengan baik untuk tanaman yang membutuhkan banyak air.

 

Kelebihan alat sistem hidroponik wick system:

  1. Tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus-menerus,
  2. Biaya alat yang murah,
  3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman,
  4. Tidak tergantung aliran listrik.

 

Kekurangan alat sistem hidroponik wick system:

  1. Air dan nutrisi yang diberikan tidak akan dapat kembali lagi sehingga lebih boros,
  2. Untuk tanaman umur panjang tdk cocok (tomat, cabe).

 

  1. NFT (Nutrient Film Technique) System

Sistem ini merupakan cara yang paling populer dalam istilah hidroponik. Konsepnya sederhana dengan menempatkan tanaman dalam sebuah wadah atau tabung dimana akarnya dibiarkan menggantung dalam larutan nutrisi. Sistem ini dapat terus menerus mengalirkan nutrisi yang terlarut dalam air sehingga tidak memerlukan timer untuk pompanya. NFT cocok diterapkan pada jenis tanaman berdaun seperti selada.

Kelebihan hidroponik sistem NFT:

  1. Dapat memudahkan pengendalian daerah perakaran tanaman,
  2. Kebutuhan air dapat terpenuhi dengan baik dan mudah,
  3. Keseragaman nutrisi dan tingkat konsentrasi larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dapat disesuaikan dengan umur dan jenis tanaman,
  4. Tanaman dapat diusahakan beberapa kali dengan periode tanam yang pendek,
  5. Sangat baik untuk pelaksanaan penelitian dan eksperimen dengan variabel yang dapat terkontrol dan memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dengan high planting density,
  6. Tidak ada penggunaan pestisida.

 

Kelemahan hidroponik sistem NFT:

Kelemahan utama pada Hidroponik Sistem NFT ini adalah investasi dan biaya perawatan yang mahal, sangat tergantung terhadap energi listrik dan penyakit yang menjangkiti tanaman akan dengan cepat menular ke tanaman lain.

 

  1. Aeroponic System

Kecanggihan sistem ini memungkinkan memperoleh hasil yang baik dan tercepat dibandingkan sistem hidroponik lainnya. Hal ini disebabkan oleh larutan nutrisi yang diberikan berbentuk kabut langsung masuk ke akar, sehingga tanaman lebih mudah menyerap nutrisi yang banyak mengandung oksigen.

 

Keunggulan tipe aeroponic system:

Kelebihan dari sistem ini adalah tumbuhan mendapati suplai oksigen yang sangat banyak, sehingga proses respirasi menjadi sangat optimal. Hasilnya akan diketahui bahwa sistem ini memiliki kapasitas penyediaan yang lebih dari yang lain, baik dari segi nutrisi ataupun oksigen.

 

Kekurangan Sistem aeroponic system:

Kelemahan dari sistem ini adalah penggunaan pompa listrik yang sangat bergantung pada ketersediaan listrik. Sehingga jika pompa yang digunakan untuk menyemprotkan air dan nutrisi tersebut mati, maka yang akan terjadi adalah tanaman yang ditanam juga akan mati. Jadi harus benar-benar dipastikan bahwa sistem cadangan yang mendukung pompa tetap aktif.

 

  1. Water Culture System/Rakit Apung

Dalam sistem hidroponik ini, akar tanaman yang tersuspensi dalam air yang kaya nutrisi dan udara diberikan langsung ke akar. Tanaman dapat ditempatkan dirakit dan mengapung di air nutrisi juga. Dengan sistem hidroponik ini, akar tanaman terendam dalam air dan udara diberikan kepada akar tanaman melalui pompa akuarium dan diffuser udara. Semakin gelembung yang lebih baik, tanaman akar akan tumbuh dengan cepat untuk mengambil air nutrisi.

 

Kelebihannya water culture system:

  1. Tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus menerus,
  2. Lebih menghemat air dan nutrisi,
  3. Mempermudah perawatan karena tidak perlu melakukan penyiraman,
  4. Biaya pembuatan cukup murah.

Kekurangan water culture system:

  1. Oksigen akan susah didapatkan tanaman tanpa bantuan alat (aerator, airstone),
  2. Akar tanaman lebih rentan terhadap pembusukan.
  3. Keuntungan dari Hidroponik

 

C. Keuntungan dari Hidroponik

Keuntungan dari sitem hidroponik antara lain:

  1. Tidak membutuhkan tanah,
  2. Air akan terus bersirkulasi di dalam sistem dan bisa digunakan untuk keperluan lain, misalnya disirkulasikan ke akuarium,
  3. Mudah dalam pengendalian nutrisi sehingga pemberian nutrisi bisa lebih efisien,
  4. Relatif tidak menghasilkan polusi nutrisi ke lingkungan,
  5. Memberikan hasil yang lebih banyak,
  6. Mudah dalam memanen hasil,
  7. Steril dan bersih,
  8. Bebas dari tumbuhan pengganggu,
  9. Media tanam dapat dilakukan selama bertahun-tahun,
  10. Bebas dari tumbuhan pengganggu/gulma,
  11. Tanaman tumbuh lebih cepat,
  12. Untuk keperluan hiasan, pot dan tanaman akan relatif lebih bersih. Sehingga untuk merancang interior ruangan dalam rumah akan bisa lebih leluasa dalam menempatkan pot-pot hidroponik. Bila tanaman yang digunakan adalah tanaman bunga, untuk bunga tertentu bisa diatur warna yang dikehendaki, tergantung tingkat keasaman dan basa larutan yang dipakai dalam pelarut nutrisinya.

 

D. Cara Pembuatan Hidroponik dengan Teknik NFT

1). Alat dan bahan

  1. Pipa PVC 4” (1-2meter),
  2. Pipa PVC 2” (seperlunya),
  3. Penutup Pipa PVC 4”,
  4. Keni siku,
  5. Keni sock atau keni sock drag,
  6. Penyambung pipa (bisa dibuka tutup),
  7. Pompa air,
  8. Ember,
  9. Lem pipa PVC dan lem korea,
  10. Biji benih (selada, bayam, kangkung, sawi, dll),
  11. Rockwool,
  12. Net pot,
  13. Pupuk hidroponik,

 2). Cara semai benih sayuran

Siapkan rockwool ukuran 2×2 atau 2,5×2,5. Basahi rockwool sampai lembab.

a. Taruh di wadah, kemudian berilah 1-2 lubang diatas rockwool dengan tusuk gigi.

b. Kemudian letakkan benih-benih sayuran di dalam lubangSetelah selesai, tutuplah wadah yang berisikan rockwool dengan kantong plastik hitam selama 1×24 jam di tempat yang teduh.

c. Setelah 1×24 jam, bukalah kantong plastik, biasanya benih pecah dan keluar kecambah sayuran.

d. Biarkan selama 1-2 jam, sebelum dipindahkan siram dengan air bersih secara merata dengan perlahan supaya rockwool lembab (selalu dijaga kelembaban rockwool)

e. kemudian pindah ke tempat yang mendapatkan sinar matahari minimal 6 jam sehari.

f. Setelah benih tanaman muncul daun hijau sekitar 3 atau 4 daun, umumnya sekitar 10-14 hari dari semai benih tanaman bisa dipindahkan ke sistem hidroponik yg kita rencanakan.

 3). Cara pembuatan Hidroponik NFT

a. Lubangi pipa PVC untuk tempat media tanaman.

b. Tutupi 2 sisi PVC dengan penutup PVC.

c. Desainlah bentuk Hidroponik yang diinginkan.

d. Siapkan pompa yang sudah diletakkan di dalam ember untuk mengalikan air dan pupuknya.

e. Kemudian pindahkan bibit ke dalam lubang pipa PVC dengan menggunakan net pot.

f. Lakukan pemompaan air minimal 2-3 jam sehari (menghemat listrik).

g. Hidroponik siap digunakan.

4). Cara pembuatan pupuk AB mix hidoponik

a. Siapkan pupuk AB mix, 2 botol untuk media penyimpanan pupuk, dan air bersih.

b. Ambilah 1 botol untuk tempat melarutkan pupuk A, dengan perbandingan 5 ml (pupuk) : 300 ml (air).

c. Ambilah 1 botol lagi untuk melarutkan pupuk B, dengan perbandingan 5 ml (pupuk) : 300 ml (air).

d. Larutkan secara merata (homogen) dan pupuk AB mix siap digunakan.

Catatan:

Perbandingan air + pupuk ab mix hidroponik:

No. Air (liter) Pupuk (ml)
1. 5 liter 50 ml
2. 20 liter 200 ml
3. 40 liter 400 ml

Tabel 5.1 Perbandingan Air dan Pupuk AB Mix

5). Jenis tanaman untuk sistem hidoponik

a. Sayuran (kangkung, sawi, bayam, selada, dll),

b. Buah-buahan (melon, cabe, dan tomat),

c. Tanaman herbal.

 

3. KOMPOSTER

A. Pengertian Kompos

          Kompos adalah hasil penguraian dari campuran-campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artificial (buatan) oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, baik secara aerobik atau anaerobik. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi dan penambahan aktivator pengomposan.

Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis. Khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfatkan bahan organik sebagai sumber energi. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap awal, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik (mikroba yang mampu mengecilkan ukuran partikel tanaman). Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50oC. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi (mikroba yang mampu mendesinfeksi).

Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/ bobot awal bahan.

Dalam proses pengomposan ini, selain menghasilkan pupuk padat juga menghasilkan pupuk cair/ lindi. Cairan ini selain berasal dari sisa air starter kompos yang berisi mikroba juga cairan yang keluar dari bahan organik yang membusuk. Cairan yang terkumpul di bagian bawah komposter ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair. Adapun karakteristik dari air lindi sebagai berikut:

  1. Berwarna coklat pekat
  2. Berbau amoniak
  3. Bersifat asam
  4. Mengandung BOD dan COD, dsb

B. Ciri-Ciri Kompos yang Baik

Ciri-ciri konmpos yang baik yaitu:

  1. Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
  2. Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi,
  3. Berefek baik jika diaplikasikan dengan tanah,
  4. Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan,
  5. Tidak berbau.

C. Proses Pembuatan Kompos

C.1. Pembuatan Komposter

Komposter adalah alat untuk membuat kompos. Alat ini sangat sederhana dan dapat dibuat sendiri, bagian-bagian komposter meliputi:

  1. Wadah/bak ember guna menampung sampah,
  2. Kran untuk mengalirkan lindi,
  3. Saringan untuk memisahkan sampah dan lindi dalam proses pengomposan,
  4. Pipa udara untuk memasukkan udara yang dibutuhkan dalam proses pengomposan.

 

Langkah-langkah membuat komposter:

  1. Siapkan ember bekas atau cat tembok kurang lebih berukuran 25 kg
  2. Buat lubang pipa aerasi berbentuk huruf T, sebagai lubang aerasi pertukaran udara karena komposter ini menggunakan sistem aerob. Untuk menempatkan pipa dan pralon kedalam Kemudian buat saringan cairan. Saringan cairan dalam ember dapat dibuat dari tutup ember bekas yang diberilubang secara merata. Lubang-lubang yang sama juga dibuat pada pipa paralon PVC di dalam ember. Fungsi lubang ini untuk memisahkan kompos dengan cairan hasil pengomposan dan untuk proses ember lubang-lubang bias dibuat dengan menggunakan bor.
  3. Setelah itu pasangkan kran air pada dasar komposter untuk mengeluarkan cairan hasil pengomposan.

C.2. Pembuatan Biostarter

Biostarter adalah cairan yang berisi mikroba pengurai sampai menjadi kompos. Biostarter yang dapat digunakan ialah EM4 (dapat dibeli), biostrater juga dapat dibuat sendiri  yaitu Larutan MOL (Mikroorganisme Lokal) dengan cara yang mudah dan murah.

Bahan dasar pembuatan biostarter  Larutan MOL adalah:

  1. Irisan pisang atau kuli tpisang (2 genggam),
  2. Irisan nanas atau kulit nanas (2 genggam),
  3. Irisan bawang merah (5 siung),
  4. Irisan tempe (2 genggam),
  5. Gula Pasir (1 sendok makan).

 

Langkah-langkah membuat biostarter:

  1. Bahan diiris dan dipisahkan masing-masing.
  2. Buat 4 gelas larutan gula, masing-masing 1 gelas air dicampur dengan 1 sendok dan gula pasir. Air yang digunakan adalah air sumur (bukan air PAM).
  3. Masukkan gula dalam 4 botol.
  4. Botol pertama diisi irisan kulit pisang/pisang.
  5. Botol kedua diisi irisan nanas/kulit nanas.
  6. Botol ketiga diisi irisan bawang merah.
  7. Botol keempat diisi irisan tempe.
  8. Botol ditutup jangan terlalu rapat, agar udara tetap masuk ke botol.
  9. Letakkan botol ditempat teduh, tidak terkena sinar matahari dan hujan secara langsung.
  10. Diamkan selama 2 hari (2×24 jam )
  11. Pisahkan antara air dan ampas dengan cara disaring.
  12. Air dari saringan keempat botol tersebut dicampur menjadi satu dan dimasukkan kedalam botol kemudian disimpan di tempat teduh ( tidak terkena sinar matahari dan hujan secara langsung). Botol ditutup.
  13. Cairan ini berfungsi sebagai starter dan dapat disimpan sampai waktu sekitar 3 bulan.
  14. Cara penggunaan: biostrater dicampur dengan air sumur dengan perbandingan 1 bagian biostrater dicampur dengan 10 bagian air.
  15. Biostrater siap digunakan dengan cara menyemprotkan dengan sprayer.

C.3. Pembuatan Kompos

Langkah-langkah pembuatan kompos yaitu:

  1. Pilih dan masukkan sampah organik, seperti sisa sayuran, kulit buah, dedaunan kering dan sisa pangkalan tanaman/rumput ke dalam komposter.
  2. Sampah yang berukuran besar, seperti batang tanaman, sayuran daun, atau kulit buah yang keras sebaiknya dirajang atau dicacah terlebih dahulu agar pembusukkannya sempurna. Selain itu, volume sampah yang terapung juga semakin banyak.
  3. Semprotkan cairan biostarter pada sampahnya sambil diaduk merata.
  4. Masukkan cacahan sampah kedalam komposter.
  5. Setelah masuk, tutup komposter selanjutnya tunggu sampah 1-2 bulan sampai kompos berbentuk seperti tanah.
  6. Pada awal pemakaian, komposter baru menghasilkan lindi atau kompos cair sekitar 2 minggu, selanjutnya pemanenan air lindi dilakukan setiap 1-2 hari sekali.

D. Parameter Kompos

No Parameter Karakter Layak
1 Rasio C/N 20:1 – 40:1
2 Kandungan air 40-60%
3 Konsentrasi oksigen >5%
4 Ukuran partikel <12cm
5 Kepadatan 500kg/m3
6 pH 5,5 – 9,0
7 Suhu 43 – 66o C

 

E. Perbedaan Komposter Aerob dan Komposter Anaerobik

No Faktor Pembeda Komposter Aerob Komposter Aerobik
1. Proses pengomposan Memerlukan udara Tidak memerlukan udara
2. Bahan organik yang dapat dikomposkan Hanya untuk sampah organik basah (daun,tanaman,rumput-rumputan,potongan sayur,dsb) Sampah organik basah dan sampah organik oalahan (nasi basi,bekas sayur,sisa roti,tulang,duri ikan,dsb)
Problem Penyebabnya Solusi
Bahan di dalam komposter tidak terdekomposisi. a.         Tidak cukup tersedia nitrogen

b.         Kurang oksigen

c.         Kurang lembab

Pastikan bahwa bahan dengan kandungan nitrogen cukup banyak seperti sampah,sisa makanan, rumput

Upayakan bahan-bahan didalam komposter diaduk dengan rata

Dijumpai banyak larva lalat Bahan yang dimasukkan tidak tepat, seperti ada sisa daging, lemak dan bahan berminyak. Masukkan bahan organik saja.
Kompos bau (busuk) dan amonia. a.          Hal ini disebabkan kompos terlalu basah atau tidak cukup udara.

b.         Komponen karbon kurang.

a.       Meletakannya di tempat yang lembab.

Tambahkan bahan seperti daun, jerami.

Banyak dimasuki serangga, kelabang, kecoa dll. Kondisi ini normal terjadi pada proses pengomposan. Gunakan komposter dengan desain yang tepat, seperti memasang kain kassa pada pipa aerasi.

F. Permasalahan Komposter

Tidak jarang pada saat proses pengomposan ditemukan beberapa permasalahan sebagai berikut:

G. Kelebihan dan Kekurangan Kompos

Kelebihan :

  1. Pupuk kompos dapat menjadi penyangga unsur hara anorganik yang diberikan
  2. Pupuk kompos dapat menjaga kelembaban tanah
  3. Pupuk kompos aman digunakan meskipun jumlah yang ditaburkan terlalu banyak.
  4. Pupuk kompos tidak merusak lingkungan.
  5. Memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh pupuk kimia, yaitu kemempuan untuk memperbaiki dan menjaga struktur tanah.
  6. Pupuk kompos juga memiliki kandungan asam-asam organik yang tidak dimiliki oleh pupuk anorganik. Kandungan asam-asam organik ini sangat berguna bagi tanaman, mikroorganisme, maupun untuk lingkungan disekitarnya, dsb.

Kekurangan :

  1. Dalam jangka pendek, apalagi untuk tanah-tanah yang sudah miskin unsur hara, pemberian pupuk organik  yang membutuhkan jumlah besar sehingga menjadi beban biaya bagi petani.
  2. Kandungan unsur hara jumlahnya kecil, sehingga jumlah pupuk yang diberikan harus relatif banyak bila dibandingkan dengan pupuk anorganik.
  3. Membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pembuatannya, dsb.